Indonesia Endemis Demam Berdarah?


Foto pasien demam berdarah
Sumber Foto: www.tempo.co

Faktanya memang kasus demam berdarah di sejumlah daerah di Indonesia masih tinggi, Kementerian Kesehatan menyebutkan Indonesia masih menjadi sarang kasus demam berdarah. Hingga pertengahan tahun ini, kasus demam berdarah terjadi di 31 provinsi dengan penderita 48.905 orang, 376 di antaranya meninggal dunia. “Indonesia sudah endemi.

Demam berdarah bisa jadi penyakit yang terjadi sepanjang tahun,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Andi Muhadir di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jumat, 26 Juli 2013.

Jumlah penderita demam berdarah pada semester pertama tahun ini menunjukkan kenaikan dibanding tahun lalu. Sepanjang 2012, Kemenkes mencatat 90.245 penderita. Kemajuan teknologi penanganan kasus demam berdarah, menurut Andi, bisa menekan angka kematian. Sepanjang tahun lalu, angka kematian mencapai 816 orang.

Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Dr. Andi Muhadir MPH di beberapa propinsi seperti Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah dan Papua melaporkan DBD sebagai KLB (kejadian luar Biasa).

Anomali iklim dan buruknya penanganan lingkungan menyebabkan kasus demam berdarah meluas di masyarakat. Iklim yang sulit diprediksi, lanjut dia, membuat hujan terus terjadi sepanjang tahun. Kucuran air dari langit inilah yang membuat genangan semakin banyak. Parahnya lagi, ucap dia, kepedulian masyarakat akan kebersihan cenderung menurun. Ujar Dr. Andi

"Pada musim hujan dan pancaroba, pencegahan demam berdarah efektif sampai saat ini masih PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan teknik dasar 3M plus. Karena hingga saat ini masuh belum ada obat dan vaksin untuk mencegah DBD," jelas Andi di kantor Kementrian Kesehatan, Jakarta, Jumat (26/7/2013).

Kemenkes sendiri berharap masyarakat bisa menerapkan konsep 3M+ untuk mencegah pertumbuhan nyamuk aedes aegepty. Gerakan itu berupa menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan membuang barang bekas di tempat tertutup. Gerakan lain yang dilakukan adalah memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menabur bubuk larvasida, dan menggunakan obat antinyamuk.

Anti Nyamuk


3M+ ( Tiga M Plus) yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Menguras

Membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan sebagainya.

2. Menutup

Memberi tutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti toren air, drum, dan sebaginya.

3. Mengubur

Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas juga memiliki potensi untuk menjadi sarang nyamuk bertelur.

Plus sendiri merupakan segala bentuk kegiatan pencegahan seperti memberi bubuk larvasida pada tempat air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, dan tidak menggantung pakaian di dalam rumah.

Dari gerakan sederhana itu, angka penderita dan kematian DBD bisa ditekan. Namun kini, masyarakat sudah melupakan konsep dasar ini. “Ini yang harus disebarluaskan pada masyarakat kita. Ini hal lama, tapi seolah tertidur,” kata Dr. Andi.

Sumber: health.liputan6.com, www.tempo.co

0 komentar:

Poskan Komentar

Rules !

* No Spam!
* No Promo
* No Haters
* No Pornography