Menyambut Hari Jadi Kota Banjarmasin


Lambang Kota Banjarmasin
Hari jadi Kota Banjarmasin yang di tetapkan tanggal 24 September, dimana pada tanggal tersebut bertepatan dengan peristiwa 24 September 1526 dimana pada abab ke-16 Pangeran Samudera sebagai raja banjar pertama sekaligus raja Kalimantan pertama yang memeluk Agama Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Ia memerintah dari tahun 1520-1540.

Dengan usia 487 tahun tentu kota Banjarmasin termasuk kota tua di Republik tercinta ini, tetapi sangat disayangkan, untuk bukti-bukti otentik yang bisa di kategorikan sebagai bagian dari kota tua yang bersejarah hampir tidak di ketemukan. Padahal karakter dan citra sebuah kota digambarkan oleh kawasan tua yang dimilikinya. Dengan fungsinya sebagai pusat sosial budaya, sangat penting untuk menghidupkan kota tua dengan mempertemukan kepentingan pelestarian dan ekonomi untuk memberikan nilai tambah terhadap kota.

Keterpurukan citra kawasan kota tua tidak saja diakibatkan pengintepretasian bangunan heritage yang tidak lebih dari sekadar benda komoditas, tetapi juga karena keterbatasan pengelola kota secara administratif dan intelektual serta rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan hakikat pelestarian bangunan tua (Martokusumo, 2002).

Salah satu upaya awal yang bisa dilakukan untuk melestarikan kota tua adalah melihat potensi sejarah dan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas kawasan itu. Dengan warisan sejarah dan nilai budayanya, diharapkan kawasan kota tua dapat menjadi destinasi wisata unggulan di Banjarmasin. Selain sebagai ciri khas kota juga destinasi pariwisata. Sebagai contoh, Jakarta memiliki Kampung Asli Betawi, Thailand ada Pagoda serta Perancis mempunyaI Menara Eiffel.

Konsep penataan dan pengembangan kota tua didasarkan pada sebuah visi-misi. Visi tersebut adalah terciptanya kawasan bersejarah kota tua sebagai tujuan wisata budaya yang mengangkat nilai pelestarian dan memanfaatkan nilai ekonomi yang tinggi. Sedangkan misi yang paling utama, yakni memperkuat aktivitas yang ada dan mendorong pengembangan aktivitas bisnis serta ekonomi baru dengan pendekatan creative community and industry. Tentunya selaras dengan potensi yang dimiliki dalam menciptakan iklim investasi kondusif sebagai daerah tujuan wisata budaya dengan nilai pelestarian.

Pelestarian/konservasi bukanlah romantisme masa lalu atau upaya untuk mengawetkan kawasan bersejarah, namun lebih ditujukan untuk menjadi alat dalam mengolah transformasi dan revitalisasi kawasan. Upaya pelestarian dapat bertujuan untuk memberikan kualitas kehidupan masyarakat Banjarmasin yang lebih baik berdasar kekuatan aset lama, dan melakukan pencangkokan program-program yang menarik dan kreatif, berkelanjutan, serta merencanakan program partisipasi dengan memperhitungkan estimasi ekonomi.

Semangat seluruh warga Kal-Sel dalam sistem pelestarian yang menyeluruh sangat diperlukan untuk mendasari berbagai upaya revitalisasi yang intinya adalah menghidupkan kembali suatu tempat yang memiliki aset potensial. Tiupan kehidupan yang diwujudkan tidak hanya sebatas fisik seperti penyelesaian infrastruktur, dukungan utilitas, pemugaran ataupun pengem-bangan lainnya, namun juga perencanaan kegiatan baru yang kreatif dan inovatif yang telah disiapkan bersama dengan mekanisme pengelolaannya.



0 komentar:

Poskan Komentar

Rules !

* No Spam!
* No Promo
* No Haters
* No Pornography