DAERAH PERBATASAN SEBAGAI BERANDA DEPAN


Wilayah Perbatasan Indonesia dan Malaysia
Perbatasan Indonesia - Malaysia (Foto: Dephut) Balikpapan
Daerah perbatasan sebagai beranda depan (front-yard) namun kenyataannya kondisi di daerah perbatasan saat ini masih tidak layak menjadi halaman depan negara melainkan menjadi halaman belakang (backyard). Daerah perbatasan masih dianggap sebagai halaman belakang negara.

Seperti halnya halaman belakang yang jauh dari perhatian, tak terawat dan berantakan, kurang lebih itu yang menggambarkan kondisi beberapa kawasan di daerah Kalimantan-Indonesia dengan Malaysia.

Kondisi kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan saat ini masih jauh tertinggal, terisolasi dan masih terbelakang; mulai dari keterbatasan infrastruktur, kegiatan perekonomian maupun kemampuan pengembangan sumber daya manusianya. Kebijakan untuk menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman depan bangsa, baru sebatas selogan semata.

Peta Perbatasan Indonesia dan MalaysiaSecara etnis, bahasa dan budaya penduduk perbatasan relatif sama dengan jirannya di Malaysia. Hanya saja fasilitas, infrastruktur dan tingkat kesejahteraan yang berbeda. Maka, mereka sebagian berdagang, berobat, sekolah dan mengadu nasib di Malaysia. Memang tidak terjadi eksodus besar-besaran ke Malaysia, namun jumlah yang menyeberang cukup signifikan.

“ Jangan sampai, dada merah putih, tapi perut Malaysia,” kata Deputi II Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Suhatmansyah.

Mungkin masalah emosional diperbatasan antara Indonesia-Malaysia tak mengemuka kalau saja belakangan tak terjadi sengketa pulau Sipadan dan Ligitan (yang akhirnya dimenangkan oleh Malaysia melalui keputusan Mahkamah Internasional (International Court of Justice pada Desember 2002) dan blok laut Ambalat di Laut Sulawesi serta masih banyak lagi.

Masyarakat di perbatasan harus merasa sebagai anak bangsa. Tapi harus diakui, kondisi perbatasan  sekarang belum baik. Di wilayah darat, di Sebatik misalnya, segala kebutuhan pokok warga yang ada di Sebatik itu, sebagian besar di datangkan dari Malaysia. Bahkan, ketika sakit, mereka berobat ke Malaysia. “ dikarenakan, lebih murah, lebih cepat.

Badan pengelola perbatasan sebenarnya, telah membuat beberapa program strategis. Salah satunya adalah Gerbang Duta atau Gerakan Terpadu Pembangunan Kawasan Perbatasan. Membangun daerah perbatasan sebenarnya tak bisa sendiri-sendiri, namun mesti terkoordinasi dan terintegrasi. Komitmen mesti disatukan sehingga gerak pembangunan saling terkait. Dengan begitu, mimpi besar menjadikan perbatasan sebagai beranda depan negara bisa direalisasikan.

Kawasan perbatasan masih membutuhkan banyak pembangunan di berbagai bidang dan harus di atas ratarata dari nasional. Terlebih wilayah perbatasan, termasuk ke dalam kawasan strategis nasional, salah satu cara untuk memacu pembangunan di wilayah perbatasan adalah dengan lebih mempermudah jangkauan masyarakat yakni dengan pemekaran.


0 komentar:

Poskan Komentar

Rules !

* No Spam!
* No Promo
* No Haters
* No Pornography